Halonusantara.id, Samarinda — Tingginya frekuensi banjir yang melanda berbagai wilayah Kota Samarinda dalam beberapa bulan terakhir memicu keprihatinan serius dari Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda, Yusrul Hana. Ia menilai bahwa pendekatan penanganan yang selama ini bersifat reaktif dan darurat tidak lagi relevan dalam menghadapi realitas perubahan iklim dan peningkatan curah hujan ekstrem.
“Sekarang ini kita tidak bisa hanya mengandalkan pengerukan sungai atau tindakan cepat saat banjir sudah terjadi. Kita butuh langkah sistematis dan permanen,” tegas Yusrul
Ia menyebut bahwa banjir bukan hanya persoalan volume air, melainkan juga soal tata kelola air dan infrastruktur pendukung yang belum optimal. Dengan kondisi geografis Samarinda yang dilintasi Sungai Mahakam dan anak sungainya seperti Karang Mumus, solusi jangka panjang dinilai sangat mendesak untuk segera diterapkan.
Salah satu terobosan yang tengah dirancang Pemerintah Kota Samarinda, kata Yusrul, adalah pembangunan sistem pengendalian banjir berbasis teknologi, yakni pintu air otomatis. Infrastruktur ini dirancang untuk bekerja secara adaptif menghadapi dua ancaman sekaligus: mencegah air pasang dari Sungai Mahakam masuk ke permukiman, dan memastikan aliran air hujan dari kota tetap bisa keluar ke sungai secara lancar.
“Pintu air otomatis itu bukan proyek kecil, tapi bagian dari grand design penanggulangan banjir yang berkelanjutan,” jelasnya.
Meski secara teknis sudah disiapkan, tantangan utamanya ada pada pembiayaan. Proyek ini diperkirakan membutuhkan anggaran antara Rp600 miliar hingga Rp700 miliar. Pemkot Samarinda pun tak ingin membebani keuangan daerah, sehingga pengajuan dukungan anggaran telah disampaikan ke pemerintah pusat, khususnya melalui Kementerian PUPR.
“Kita tahu APBD kita terbatas, jadi sangat realistis jika proyek ini didorong lewat skema pendanaan nasional,” tambah politisi dari Partai Gerindra itu.
Tak hanya itu, Yusrul juga menekankan bahwa pembangunan pintu air bukan berarti meninggalkan strategi lain seperti normalisasi sungai. Ia berharap normalisasi Sungai Karang Mumus dan Mahakam tetap berlanjut sebagai bagian dari penanganan terpadu.
“Harus simultan, bukan saling menggantikan. Normalisasi tetap penting, pintu air itu pelengkap sistem agar lebih kokoh dan terintegrasi,” tutupnya. (EP/Adv)

