Halonusantara.id, Samarinda – Upaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) dalam membuka akses digital di desa-desa menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Meski begitu, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim tetap optimis untuk menuntaskan target penyediaan internet gratis di ratusan desa sepanjang tahun 2025.
Kepala Diskominfo Kaltim, Muhammad Faisal, menjelaskan bahwa hingga penghujung Juni 2025, sedikitnya 153 desa telah berhasil terhubung dengan jaringan internet. Jumlah ini merupakan bagian dari program percepatan konektivitas digital yang tengah digalakkan Pemprov.
Meski sudah menunjukkan progres, Faisal mengakui bahwa tantangan yang dihadapi tim teknis di lapangan jauh dari mudah. Medan geografis yang berat serta minimnya infrastruktur dasar di sejumlah wilayah membuat proses pemasangan tidak bisa berjalan sesuai perencanaan awal.
“Secara hitungan di atas kertas, target ini kelihatan masuk akal. Tapi realitasnya, di banyak desa tim kami harus menghadapi akses jalan yang sulit dan fasilitas dasar yang belum memadai,” jelas Faisal, Minggu (6/7/25).
Dalam waktu dekat, Diskominfo menargetkan penambahan layanan internet di 150 desa lainnya. Fokus utama saat ini adalah mengejar realisasi sebelum memasuki kuartal akhir tahun. Jika ditotal, capaian yang ingin dikejar hingga September mendatang adalah lebih dari 300 desa tersambung layanan internet.
Semua jaringan yang dibangun menggunakan teknologi Fiber Optik (FO), bukan sistem satelit atau nirkabel. Pemilihan ini, menurut Faisal, didasarkan pada pertimbangan stabilitas dan keberlanjutan jaringan.
“FO adalah jaringan tetap. Jadi kalau kita sudah pasang fiber, tidak bisa diganti dengan wireless. Itu sistemnya beda dan tidak bisa digabung,” tuturnya.
Faisal juga mengungkapkan bahwa desa-desa yang masuk dalam tahap awal pengerjaan merupakan wilayah yang paling mudah dijangkau secara teknis. Strategi ini diambil agar backlog sebanyak 841 desa yang belum terlayani bisa segera berkurang secara bertahap.
Terkait anggaran, Pemprov Kaltim menargetkan pengadaan jaringan untuk 716 desa melalui dana APBD murni, sedangkan sisanya sekitar 125 desa akan dimasukkan dalam anggaran perubahan. Namun begitu, pembiayaan proyek ini turut terhambat oleh masalah pasokan listrik.
Data dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan masih ada 100 desa yang belum memiliki sambungan listrik. Tanpa aliran listrik, perangkat internet tak bisa difungsikan, sehingga sebagian wilayah kemungkinan besar akan menggunakan panel surya sebagai solusi alternatif.
Namun penggunaan panel surya ini bukan tanpa konsekuensi. Harganya lebih mahal dan bisa menyebabkan lonjakan biaya jika tidak dihitung dengan matang.
Faisal menegaskan pihaknya sedang berhitung ulang untuk menghindari pembengkakan anggaran.
“Kalau semua kita masukkan ke anggaran perubahan dengan panel surya, biayanya bisa melonjak. Itu yang kita hindari,” ujarnya.
Untuk sementara, fokus kerja Diskominfo di bulan Juli akan diarahkan ke desa-desa yang relatif mudah dijangkau baik dari sisi transportasi maupun kesiapan infrastrukturnya.
Meskipun berbagai hambatan masih dihadapi, Faisal memastikan bahwa semangat untuk memperluas jaringan internet ke desa tidak akan surut.
“Kami tetap optimis dan akan terus berupaya. Tantangannya memang ada, tapi masyarakat desa berhak mendapatkan layanan internet yang layak dan gratis,” tutupnya. (Na/Adv/DiskominfoKaltim)

