Halonusantara.id, Kutai Kartanegara — Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memperkuat berbagai intervensi untuk mengejar penurunan angka stunting hingga 12,2 persen.
Upaya dilakukan tidak hanya melalui pemberian makanan tambahan (PMT), tetapi juga penguatan kader, peningkatan kapasitas petugas hingga menghadirkan dokter spesialis anak ke wilayah yang membutuhkan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar Ismi Mufidah mengatakan, angka stunting per September 2026 berada di kisaran 14,2 persen. Capaian tersebut masih berada dalam jalur target yang ditetapkan, meski pemerintah daerah masih harus mengejar penurunan lebih lanjut.
“Untuk angka stunting, per September ini sekitar 14,2 persen dan masih sesuai dengan target yang ditetapkan. Target berikutnya sekitar 12,2 persen,” kata Ismi di Tenggarong, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, penurunan stunting dalam tiga tahun terakhir menunjukkan perkembangan positif. Namun, program intervensi tetap harus dijalankan secara konsisten agar capaian tersebut tidak kembali mengalami kemunduran.
“Memang kita masih perlu mengejar angka tersebut, tetapi dalam tiga tahun terakhir terjadi penurunan yang cukup signifikan,” ujarnya.
Intervensi Diperluas
Dinkes Kukar menjalankan sejumlah program untuk memperkuat penanganan stunting hingga tingkat masyarakat.
Salah satunya melalui kerja sama dengan Yayasan Cipta yang mencakup pelatihan kader posyandu serta peningkatan kapasitas petugas dalam mendeteksi dan menangani kasus stunting.
Dinkes juga menjalankan pilot project di Kecamatan Loa Janan dan Tenggarong Seberang sebagai bagian dari penguatan intervensi di tingkat wilayah.
Selain itu, pemerintah daerah menyiapkan inovasi layanan bagi kasus stunting yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Ismi mengatakan, dokter spesialis anak dapat didatangkan langsung ke wilayah yang memiliki kasus dan membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
“Untuk kasus stunting yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dan tidak dapat bertemu langsung dengan dokter spesialis anak, kita juga memiliki inovasi dengan mendatangkan dokter spesialis ke lapangan,” jelasnya.
Melalui skema tersebut, biaya kedatangan dokter spesialis ditanggung sehingga masyarakat di wilayah dengan keterbatasan akses layanan dapat memperoleh pemeriksaan lebih lanjut.
PMT Berbasis Pangan Lokal
Intervensi juga tetap dilakukan melalui pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal.
Program tersebut dijalankan melalui puskesmas dengan menyasar kelompok yang membutuhkan, terutama ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK) serta bayi dan balita yang mengalami stunting.
Untuk ibu hamil, salah satu indikator yang digunakan dalam mendeteksi KEK adalah pengukuran lingkar lengan atas (LILA). Ibu hamil dengan LILA di bawah 23 sentimeter menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dan intervensi.
Sementara pemberian PMT kepada balita stunting disesuaikan dengan hasil pemeriksaan dan kebutuhan masing-masing anak.
Menu PMT disusun oleh tenaga gizi dengan memperhatikan kebutuhan karbohidrat, protein dan zat gizi lainnya. Bahan yang digunakan juga diupayakan berasal dari pangan lokal yang mudah diperoleh masyarakat.
Ismi menegaskan, penanganan stunting tidak dapat dilakukan secara sesaat. Program harus terus dipantau dan diperbarui berdasarkan kondisi di lapangan.
“Ini memang masih perlu kita kejar dan perlu di-maintenance. Angka kematian balita, penurunan stunting, dan pencapaian indikator SPM masih menjadi program prioritas,” katanya. (HB/ADV)

