Halonusantara.id, Kutai Kartanegara – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai mendorong pengembangan sorgum dan jelai sebagai komoditas pangan alternatif. Selain memperluas pilihan sumber pangan masyarakat, kedua komoditas tersebut diarahkan untuk membuka peluang usaha baru bagi petani dan pelaku ekonomi lokal.
Pengembangan ini menjadi bagian dari program diversifikasi pangan melalui gerakan Stop Boros Pangan, Kenyang Tidak Harus Nasi yang dijalankan Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar.
Kepala Disketapang Kukar, Ananias, mengatakan pengembangan pangan lokal perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat tidak terus bergantung pada beras sebagai sumber makanan pokok.
Menurutnya, Kukar memiliki potensi untuk mengembangkan berbagai komoditas pangan yang dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah.
“Kalau kita ingin mandiri pangan, kita tidak boleh hanya bergantung pada beras. Kita harus melakukan penganekaragaman pangan, salah satunya dengan memberdayakan pangan lokal,” ujar Ananias, Kamis (5/11/2026).
Sorgum dan jelai menjadi dua komoditas yang masuk dalam rencana pengembangan pemerintah daerah. Jelai merupakan pangan yang telah dikenal sebagian masyarakat Dayak sejak dahulu, sedangkan sorgum dinilai memiliki peluang untuk dibudidayakan karena kondisi tanah dan iklim Kukar dianggap mendukung.
Disketapang Kukar telah memasukkan pengembangan kedua komoditas tersebut dalam Rencana Strategis (Renstra) 2025–2029.
Ananias menjelaskan, pengembangan tidak hanya difokuskan pada kegiatan penanaman. Pemerintah juga merancang proses lanjutan mulai dari panen, pengemasan hingga pemasaran agar hasil pertanian memiliki nilai tambah.
“Di dua KPT itu nanti kami juga akan melakukan proses dari budidaya sampai panen, pengemasan, dan pemasaran untuk pangan lokal berupa sorgum dan jelai,” ujarnya.
Melalui pola tersebut, petani diharapkan tidak hanya berperan sebagai produsen bahan mentah, tetapi juga memiliki peluang terlibat dalam rantai pengolahan dan pemasaran produk pangan lokal.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga berupaya mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat agar semakin mengenal sumber pangan selain beras.
Ananias menilai diversifikasi pangan menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian pangan daerah. (HB/ADV)

