Halonusantara.id, Kutai Barat – Suasana Taman Budaya Sendawar, Kabupaten Kutai Barat, berubah semarak saat ratusan warga tumpah ruah menyaksikan Festival Gita Nusantara. Acara yang menjadi bagian dari Pekan Daerah Petani-Nelayan (PEDA) XI ini menyuguhkan perpaduan seni dan semangat lokal melalui lomba paduan suara, tari tradisional, dan fashion show.
PEDA XI tahun ini diselenggarakan secara bergilir dan diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Kalimantan Timur, seperti KTNA Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Paser, Bontang, hingga Mahakam Ulu. Ragam penampilan budaya mereka dinilai langsung oleh juri berpengalaman, yakni pelatih paduan suara Ester, penyanyi dan pencipta lagu Petrus, serta Aida Mustafa dari KTNA Kaltim.
Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ekti Imanuel, yang turut hadir memberikan apresiasi tinggi atas keberlangsungan acara tersebut. Menurutnya, festival ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga wujud nyata komitmen dalam merawat identitas budaya lokal.
“Ini bukan sekadar pertunjukan seni. Ini adalah bentuk konkret upaya memperkuat identitas budaya daerah. Kita harus bangga dan menjaganya sebagai warisan leluhur,” tegas Ekti, yang juga menjabat sebagai Ketua KTNA Kutai Barat, Selasa (24/6/2025).
Tak hanya fokus pada seni budaya, PEDA XI juga mengangkat potensi ekonomi masyarakat melalui lomba karya wirausaha petani dan nelayan. Bertempat di Lamin Melayu, acara yang digelar sehari sebelumnya itu menjadi ruang berbagi inovasi dan kreativitas dalam pengembangan usaha lokal.
Ekti menegaskan pentingnya dukungan terhadap para petani dan nelayan agar mampu bergerak lebih mandiri serta berdaya saing. Ia berharap kegiatan seperti ini mendorong tumbuhnya wirausaha baru di sektor agraris.
“Lewat kegiatan seperti ini, kita dorong petani dan nelayan agar lebih percaya diri, tidak hanya memproduksi, tapi juga memasarkan dan menciptakan nilai tambah dari produk mereka,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebut bahwa kombinasi antara seni dan kewirausahaan menjadi kunci dalam membangun ekosistem sosial-ekonomi yang tangguh. Di tengah derasnya arus modernisasi, pelestarian budaya menjadi pilar penting dalam memperkuat koneksi antardaerah.
“Ini sekaligus menjadi ruang bertemunya semangat kebudayaan dan pembangunan ekonomi lokal. Ketika seni, usaha, dan masyarakat bersatu dalam satu panggung, di situlah kekuatan daerah dibangun,” pungkasnya.
Dengan sinergi antara pelestarian budaya dan inovasi ekonomi, PEDA XI di Kutai Barat tak sekadar menjadi perayaan, melainkan momentum penting untuk memperkuat jati diri dan kemandirian masyarakat Kalimantan Timur. (Eby/Adv)

