Halonusantara.id, Samarinda — Ketimpangan akses pendidikan di Kalimantan Timur (Kaltim) kembali menjadi sorotan, seiring dengan semakin terbatasnya daya tampung sekolah negeri di tengah lonjakan jumlah lulusan SMP tiap tahun.
Masalah ini diperparah dengan kondisi infrastruktur yang tidak memadai, seperti yang terjadi di SMAN 4 Samarinda sekolah yang secara rutin terendam banjir dan kini masuk radar prioritas untuk direhabilitasi atau bahkan direlokasi.
Sekolah yang berada di kawasan Rapak Dalam, Kecamatan Loa Janan Ilir, ini disebut sebagai potret nyata tantangan yang dihadapi dunia pendidikan di kota besar seperti Samarinda dan Balikpapan.
Musim hujan yang rutin melanda telah membuat kegiatan belajar-mengajar terganggu dan menimbulkan kecemasan di kalangan siswa maupun orang tua.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim, Armin, menegaskan bahwa situasi ini tidak bisa dibiarkan terus berlangsung.
Ia menyebut SMAN 4 bukan hanya menghadapi persoalan banjir, tetapi juga tekanan daya tampung yang tinggi akibat pertambahan jumlah siswa setiap tahun.
“Sekolah ini sudah kami masukkan ke daftar penanganan khusus. Jika memang relokasi menjadi solusi terbaik, maka opsi itu akan kami dorong,” ungkap Armin, Selasa (10/6/2025).
Langkah cepat juga dilakukan Pemprov Kaltim dalam menyikapi lonjakan kebutuhan ruang belajar. Gubernur Rudy Mas’ud, kata Armin, telah memberi arahan agar pembangunan sekolah baru dan penambahan ruang kelas segera dipercepat, terutama di wilayah padat.
Salah satu rencana konkret saat ini adalah pemanfaatan lahan seluas 16 hektare di kawasan SMK 5 Balikpapan untuk pembangunan unit sekolah baru. Lokasi itu dinilai strategis dan memungkinkan dibangunnya lebih dari satu sekolah negeri jenjang SMA atau SMK.
Namun, pembangunan sekolah negeri saja dianggap belum cukup untuk menjawab masalah secara menyeluruh. Armin menyoroti rendahnya minat masyarakat terhadap sekolah swasta yang menyebabkan banyak dari mereka kesulitan bertahan.
“Banyak sekolah swasta kekurangan siswa. Ini tidak boleh dibiarkan, karena sekolah swasta juga bagian dari ekosistem pendidikan,” ujarnya.
Ia mendorong agar ke depan, arah kebijakan tidak hanya terfokus pada perluasan sekolah negeri, tetapi juga pada peningkatan mutu dan daya saing sekolah swasta agar menjadi alternatif yang seimbang dan berkelanjutan.
Selain itu, Armin menegaskan pentingnya melakukan pemetaan kebutuhan pendidikan berdasarkan data sebaran lulusan SMP di tiap daerah. Menurutnya, pembangunan harus berbasis kebutuhan nyata dan tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar.
“Banyak daerah yang luput dari perhatian hanya karena masalahnya tidak terlalu tampak. Kita harus pastikan seluruh wilayah Kaltim mendapat porsi perhatian yang adil dalam pembangunan pendidikan,” tutupnya. (Na/Adv/DiskominfoKaltim)

