Halonusantara.id, Samarinda — Upaya pelestarian budaya di Kalimantan Timur kini tak lagi menjadi tanggung jawab satu sektor. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim menegaskan bahwa kekuatan kolaborasi antarlembaga adalah kunci menjaga warisan budaya di tengah derasnya pengaruh global.
“Pelestarian budaya tidak bisa berjalan sendiri. Kita butuh sinergi yang konkret dengan instansi lain seperti Dispora dan Dinas Pariwisata. Ini bukan hanya soal menjaga tradisi, tapi juga memperkuat identitas dan ekonomi daerah,” ujar Sekretaris Disdikbud Kaltim, Rahmat Ramadhan, Rabu (25/6/2025).
Rahmat mencontohkan bagaimana kerja sama dalam menggelar lomba permainan tradisional seperti gasing dan egrang menjadi bukti nyata dari kolaborasi yang berdampak luas. Tidak hanya sebagai pelestarian budaya, kegiatan itu juga mampu menghidupkan olahraga tradisional serta menanamkan nilai-nilai lokal kepada generasi muda.
Tak berhenti di situ, Disdikbud Kaltim juga aktif mendorong agenda budaya bertaraf internasional. Dua event besar, yaitu Dialog Serantau Borneo Kalimantan (DSBK) dan East Borneo International Folklore Festival (EBIFF), menjadi bukti keseriusan dalam menjadikan budaya sebagai instrumen diplomasi dan promosi daerah ke tingkat global.
“Melibatkan sektor pariwisata dan olahraga dalam setiap agenda budaya adalah strategi kami untuk memperluas jangkauan sekaligus menarik partisipasi publik yang lebih luas,” tuturnya.
Langkah ini, lanjutnya, sejalan dengan visi Pemprov Kaltim untuk menjadikan budaya sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Tidak hanya melestarikan, tapi juga mengembangkan potensi ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.
Disdikbud Kaltim berharap, melalui pendekatan kolaboratif dan lintas sektoral ini, pelestarian budaya di daerah dapat berjalan lebih sistematis, inklusif, dan berkesinambungan sekaligus memperkuat posisi Kalimantan Timur sebagai salah satu pusat budaya di Nusantara. (Na/Adv/DiskominfoKaltim)

