Halonusantara.id, Kutai Kartanegara — Anggota Komisi I DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Erwin, menyoroti belum adanya perhatian serius terhadap petani walet dalam program-program pembangunan daerah. Hal itu disampaikannya dalam Rapat Pembahasan Rancangan Awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kukar 2025–2029 yang berlangsung di ruang rapat Banmus DPRD Kukar, Senin (4/8/2025).
Erwin menilai, visi dan misi RPJMD yang menekankan kemajuan dan kesejahteraan daerah seharusnya juga menyentuh sektor-sektor riil yang selama ini menopang ekonomi masyarakat, termasuk para petani walet.
“Selama ini petani walet di Kukar belum pernah tersentuh program secara langsung. Padahal dulu, harga sarang walet bisa mencapai Rp12–13 juta per kilogram. Sekarang, kualitas bagus saja dihargai paling tinggi Rp3 juta, sementara yang di bawah itu hancur harganya,” ujarnya.
Menurut Erwin, penurunan tajam harga jual sarang walet telah berdampak signifikan terhadap penghasilan dan kesejahteraan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa selama beberapa tahun terakhir, sektor ini menjadi salah satu penopang ekonomi lokal di sejumlah wilayah di Kukar.
“Kalau ada masalah seperti ini, seharusnya pemerintah hadir. Saya harap program stimulan untuk petani walet bisa dimasukkan ke dalam RPJMD ini,” tegasnya.
Erwin menilai, jika RPJMD ingin benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan mendukung kesejahteraan yang berkelanjutan, maka penyusunan program harus berbasis pada potensi lokal dan kondisi ril di lapangan.
Ia berharap ke depan, pemerintah lebih tanggap terhadap dinamika ekonomi masyarakat dan mampu merancang kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tapi juga kesejahteraan pelaku usaha kecil dan menengah, termasuk petani sarang burung walet. (Hf/Adv)

