Halonusantara.id, Samarinda – Minimnya jumlah tenaga gizi di Kalimantan Timur (Kaltim) dinilai sebagai tantangan terbesar dalam proses percepatan penanganan stunting di daerah.
Data BPS Kaltim 2024 mencatat hanya ada 503 tenaga gizi untuk melayani 4,05 juta penduduk. Jumlah ini masih jauh dari standar nasional, yakni 35 tenaga gizi per 100 ribu jiwa penduduk.
Wakil Ketua DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, menegaskan bahwa peran tenaga gizi menjadi kunci utama dalam menjamin kebutuhan nutrisi bagi ibu dan anak.
“Kalau bicara stunting, berarti bicara soal gizi. Tenaga gizi ini ujung tombaknya. Kalau jumlahnya kurang, jelas berpengaruh pada pelayanan di lapangan,” tuturnya.
Penyebaran tenaga gizi juga menjadi persoalan. Hingga kini, Samarinda memiliki 93 tenaga gizi, Balikpapan 87 dan Kutai Kartanegara 81. Berbanding terbalik dengan Mahakam Ulu yang memiliki wilayah lebih luas justru hanya memiliki 16 tenaga gizi.
Ananda meminta Dinas Kesehatan Kaltim menjalin kolaborasi bersama perguruan tinggi dibidang kesehatan termasuk Universitas Mulawarman, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, dan Poltekkes Kemenkes.
Ia menambahkan, bahwa lembaga-lembaga pendidikan tersebut berpotensi menjadi sumber utama percepatan penambahan tenaga gizi di Kaltim.
“Kami di DPRD meminta adanya langkah nyata agar jumlah tenaga gizi bisa ditingkatkan dan penyebarannya lebih merata. Ini penting supaya penanganan stunting di Kaltim dapat berjalan lebih cepat dan efektif,” tutupnya. (Ngl/Adv/DPRDKaltim)

