Halonusantara.id, Samarinda – Gedung baru Pasar Pagi Samarinda belum sepenuhnya mampu membawa perubahan terhadap aktivitas perdagangan. Sejumlah pedagang masih mengeluhkan minimnya pembeli, bahkan ada yang mengaku hanya memperoleh satu transaksi dalam beberapa hari.
Kondisi itu menjadi perhatian Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, setelah melakukan peninjauan langsung ke seluruh area Pasar Pagi. Ia melihat aktivitas perdagangan di sejumlah lantai masih relatif lengang dan sejumlah kios belum dimanfaatkan secara maksimal.
Menurut Iswandi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan bangunan baru belum otomatis membuat pasar kembali menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Persoalan akses, penataan pedagang hingga daya tarik pasar perlu dikaji secara menyeluruh.
“Ada pedagang yang bercerita sudah tiga bulan belum mendapatkan pembeli. Bahkan ada juga yang hanya melayani satu transaksi dalam satu minggu, sementara dalam sehari kadang hanya satu barang yang berhasil terjual,” ujarnya belum lama ini.
Ia menilai kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Dengan anggaran revitalisasi sekitar Rp468,5 miliar, Pasar Pagi seharusnya tidak sekadar menghasilkan fasilitas perdagangan yang lebih modern, tetapi juga mampu meningkatkan aktivitas ekonomi pedagang.
Iswandi juga menemukan persoalan dalam penempatan kios. Beberapa pedagang disebut mendapatkan lebih dari satu kios, tetapi lokasinya berada di lantai atau area yang berbeda.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat menyulitkan pedagang dalam mengelola usaha. Selain membutuhkan tenaga lebih besar, pedagang juga harus menanggung biaya operasional tambahan ketika harus mengawasi kios yang letaknya berjauhan.
“Kalau kios berada di tempat yang berjauhan, tentu pedagang harus mengeluarkan tenaga dan biaya tambahan. Sementara pendapatan dari satu kios saja belum tentu mencukupi. Hal seperti ini perlu dievaluasi,” katanya.
Persoalan fasilitas gedung turut menjadi sorotan. DPRD menerima laporan mengenai sejumlah bagian bangunan yang masih mengalami kendala, termasuk adanya titik yang mengalami kebocoran atau tempias ketika hujan.
Iswandi mengatakan seluruh persoalan tersebut harus dilihat sebagai satu kesatuan. Pemerintah perlu mengetahui faktor utama yang membuat pasar belum mampu menarik pengunjung dalam jumlah yang memadai.
“Kita harus mengetahui apa yang menjadi akar masalahnya. Bisa saja karena akses menuju pasar, penataan kios yang belum ideal, promosi yang kurang maksimal, atau faktor lainnya. Semua harus dikaji bersama,” jelasnya.
Untuk mencari solusi, Komisi II DPRD Samarinda akan mengundang sejumlah OPD terkait dalam rapat evaluasi. Dinas Perdagangan, Dinas Perhubungan, Dinas PUPR, dan Inspektorat direncanakan hadir dalam pembahasan tersebut. DPRD juga akan melibatkan perwakilan pedagang agar persoalan di lapangan dapat disampaikan secara langsung.
Rapat tersebut ditargetkan digelar sebelum akhir Agustus 2026. Pembahasan tidak hanya diarahkan untuk mengevaluasi kondisi fisik pasar, tetapi juga mencari strategi agar jumlah pengunjung meningkat dan aktivitas perdagangan kembali bergairah.
“Kami ingin seluruh pihak duduk bersama mencari solusi. Tujuan kami bukan mencari siapa yang salah, tetapi memastikan Pasar Pagi kembali ramai dan pedagang bisa memperoleh penghasilan yang layak,” tutup Iswandi. (Eby/Adv)

