Halonusantara.id, Samarinda -Stadion Utama Palaran di Samarinda kembali mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Pemeliharaan stadion dengan kapasitas lebih dari 60 ribu penonton ini dipastikan tetap berjalan sebagai bagian dari kesiapan infrastruktur olahraga penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim, Agus Hari Kesuma (AHK), menegaskan bahwa pemangkasan anggaran daerah tidak menyentuh pos infrastruktur strategis, termasuk stadion. Ia menyebut efisiensi yang dilakukan lebih diarahkan ke aspek pengadaan barang dan jasa, serta perjalanan dinas.
“Untuk urusan stadion, tetap kita lanjutkan. Ini bukan hanya soal olahraga, tapi menyangkut kesiapan kita mendukung aktivitas nasional dan bahkan internasional di masa depan,” ucap AHK.
Salah satu fokus utama dalam pemeliharaan ini adalah rumput lapangan utama. Menurut Agus, kualitas rumput bukan sekadar estetika, melainkan unsur vital dalam keselamatan dan performa atlet. Tanpa perawatan rutin, kata dia, stadion berisiko jadi beban alih-alih aset.
“Rumput itu mahal dan menentukan. Kalau tidak rata, passing bisa melenceng, bahkan bisa bikin pemain cedera. Ini yang tidak bisa kita kompromikan,” tegas AHK.
Meski lokasinya sempat dianggap tidak strategis karena jauh dari pusat kota, Stadion Palaran dinilai masih relevan dalam skala nasional. Infrastruktur penunjangnya disebut memadai dan bisa disesuaikan kembali jika sewaktu-waktu dibutuhkan, misalnya untuk pemusatan latihan tim nasional.
“Kalau kita bicara stadion besar, maka kapasitas dan fasilitas teknis jadi syarat utama. Stadion Madya bisa untuk skala kecil, tapi Palaran tetap jadi andalan kita untuk event besar,” jelas AHK.
Ia juga mengisyaratkan bahwa Palaran bisa menjadi bagian dari grand design pengembangan olahraga di Kalimantan Timur pasca-berfungsinya IKN. Dengan posisi sebagai penyangga, Kaltim diharapkan mampu menyuplai fasilitas pendukung sekaligus atlet berkualitas untuk level nasional.
Agus menutup pernyataannya dengan menekankan pentingnya konsistensi dalam merawat aset yang ada.
“Bukan soal punya stadion besar atau kecil, tapi bagaimana kita rawat terus. Karena kalau infrastruktur sudah siap, peluang untuk jadi tuan rumah atau bahkan markas latihan tim nasional, itu bisa datang kapan saja,” pungkas AHK. (Sf/Adv/DISPORAKALTIM)

