Halonusantara.id, KUKAR – Selain pembinaan keagamaan dan seni, lembaga pemasyarakatan di Kutai Kartanegara juga mengembangkan program kemandirian. Melalui berbagai kegiatan produktif, warga binaan dibekali keterampilan yang bisa menjadi bekal hidup setelah bebas nanti.
Di Lapas Kelas IIA Tenggarong, sejumlah warga binaan dilibatkan dalam pembuatan meubelair. Kegiatan ini memberi mereka pengalaman langsung mengolah kayu menjadi perabot yang bernilai ekonomi. Hasil karya tersebut bahkan sudah mulai dikenal oleh masyarakat sekitar.
Lapas Perempuan (LPP) Tenggarong memiliki program kerajinan tangan khas daerah. Para warga binaan di sana diajarkan membuat sulam tumpar, produk budaya khas Kutai yang sarat nilai tradisional. Selain itu, mereka juga mengelola bakery dengan produk roti yang dipasarkan secara terbatas.
Sementara itu, Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Tenggarong mengembangkan pertanian hidroponik. Anak bina diajak menanam sayuran dengan metode modern sehingga mereka terbiasa dengan keterampilan pertanian yang ramah lingkungan. LPKA juga membuka barbershop sebagai sarana pembelajaran keterampilan praktis.
Program-program ini tidak hanya memberi kesibukan positif, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri. Warga binaan dilatih untuk menghasilkan karya yang bermanfaat sekaligus bernilai ekonomi.
Anggota Komisi IV DPRD Kukar, Akhmad Akbar Haka, mengapresiasi inisiatif ini. Menurutnya, pembinaan kemandirian harus mendapat dukungan penuh agar warga binaan benar-benar siap kembali ke masyarakat.
“Artinya pembinaan tetap jalan, tapi dukungan fasilitas harus ditambah agar pembinaan lebih maksimal,” ujarnya, Minggu (17/8/2025).
Ia menambahkan, kerja sama dengan pihak swasta juga menjadi kunci keberhasilan program kemandirian. Salah satunya dengan PT STBJ yang mendukung ketahanan pangan di lapas. Kolaborasi ini dinilai penting agar warga binaan mendapat pengalaman yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Akbar menilai, ketika warga binaan dibekali keterampilan, mereka punya peluang lebih besar untuk diterima kembali di masyarakat. Hal ini juga dapat mengurangi stigma negatif sekaligus mencegah mereka mengulangi kesalahan yang sama.
“Kalau mereka sudah punya bekal usaha, tentu setelah bebas tidak bingung mencari jalan hidup. Inilah yang kita dorong agar mereka bisa mandiri,” jelas politisi PDI Perjuangan itu.
Program meubelair, bakery, sulam tumpar, hidroponik, hingga barbershop menunjukkan bahwa lapas bukan hanya tempat menjalani hukuman. Lebih dari itu, lapas menjadi tempat warga binaan belajar, bekerja, dan membangun harapan baru.
Dengan konsistensi pembinaan dan dukungan semua pihak, program kemandirian ini diharapkan bisa terus berkembang.
“Kita ingin mereka yang keluar nanti punya keterampilan nyata dan bisa hidup lebih baik,” pungkas Akbar. (Hf/Adv)

