Halonusantara.id, Samarinda – Kekhawatiran orang tua menjadi salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan Program Sekolah Rakyat di Kalimantan Timur (Kaltim). Meski telah diluncurkan dan ditargetkan mampu menampung 75 murid, hingga pertengahan Juli 2025, jumlah pendaftar baru mencapai tiga orang.
Menanggapi kondisi ini, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kaltim, Andi Muhammad Ishak menegaskan bahwa lingkungan sekolah dan asrama telah dirancang sedemikian rupa untuk menciptakan suasana yang aman, nyaman, dan mendukung pertumbuhan anak secara menyeluruh.
“Para orang tua tidak perlu ragu. Sekolah Rakyat tidak hanya menyediakan pendidikan berkualitas, tapi juga menciptakan lingkungan yang ramah anak baik secara fisik maupun emosional,” ujar Ishak, Selasa (15/7/25).
Ia menambahkan, sebagian besar penolakan berasal dari kekhawatiran orang tua terhadap sistem asrama. Ada pula anak-anak yang lebih memilih bekerja membantu orang tua dibanding melanjutkan pendidikan. Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri, namun Ishak meyakini persepsi itu bisa diubah dengan pendekatan yang tepat.
“Kami ingin orang tua tahu bahwa ini bukan sekadar sekolah, tapi tempat yang akan membentuk karakter anak menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, dan berdaya saing,” tegasnya.
Sekolah Rakyat sendiri mengusung tiga program utama Program Persiapan, Program Akademik, dan Program Asrama. Program persiapan mencakup kesiapan fisik, mental, dan akademik. Sementara program akademik mengikuti standar kurikulum nasional, termasuk kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
Di sisi lain, program asrama menjadi ruang penguatan karakter, nilai spiritual, cinta tanah air, hingga pengembangan kemampuan berbahasa.
Dengan pendekatan holistik ini, Dinsos Kaltim berharap masyarakat dapat melihat bahwa Sekolah Rakyat adalah jalan keluar dari belenggu kemiskinan struktural. Terutama bagi keluarga yang tergolong miskin, pendidikan di sekolah berbasis asrama ini diyakini mampu membawa perubahan besar.
“Sekolah ini dirancang untuk mencetak anak-anak yang bukan hanya pintar, tapi juga kuat secara mental dan siap memimpin. Mereka bisa menjadi agen perubahan, bukan hanya bagi diri sendiri, tapi juga keluarga dan lingkungannya,” tutup Ishak. (Na/Adv/DiskominfoKaltim)

