Halonusantara.id, Samarinda — Proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) di TPA Sambutan, Kota Samarinda, mendapat dukungan penuh dari DPRD Kalimantan Timur. Anggota Komisi III, Subandi, menilai proyek ini sebagai terobosan strategis dalam mengatasi persoalan sampah sekaligus menghadirkan energi alternatif ramah lingkungan.
Dalam pernyataannya, Subandi menegaskan bahwa pengelolaan sampah dengan metode konvensional sudah tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan urbanisasi dan pertumbuhan penduduk. Ia mendorong peralihan ke teknologi modern yang mampu menyelesaikan persoalan secara sistemik.
“Sudah saatnya kita beralih ke teknologi modern. PLTSA menjadi jawaban nyata atas tantangan pengelolaan sampah di kota ini, sekaligus menghasilkan listrik yang dapat dimanfaatkan,” ujar politisi Partai Keadilan Sejahtera itu.
Subandi juga melihat potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dari proyek ini. Menurutnya, konversi sampah menjadi energi mampu mengurangi tekanan terhadap lingkungan, sekaligus mendongkrak efisiensi pengelolaan limbah serta menekan ketergantungan terhadap energi fosil.
Proyek PLTSA ini ditargetkan selesai pada akhir 2025 dan menjadi bagian dari rencana Pemerintah Kota Samarinda untuk masuk jajaran sepuluh kota terbaik dalam pengelolaan sampah nasional pada 2026.
Ia pun menyambut positif keterlibatan investor asing dari Malaysia dan Korea Selatan dalam pembangunan PLTSA ini. Kerja sama tersebut dinilai bisa mempercepat proses pembangunan sekaligus mengurangi beban keuangan daerah.
“Kerja sama dengan mitra luar negeri menjadi peluang besar. Dengan demikian, anggaran daerah dapat dialihkan untuk sektor penting lainnya seperti kesehatan dan pendidikan,” ungkapnya.
Meski teknologi menjadi andalan, Subandi mengingatkan bahwa keberhasilan proyek ini tetap bergantung pada peran aktif masyarakat. Ia mendorong warga untuk mulai membiasakan pemilahan sampah dari sumbernya dan mengikuti sistem pengelolaan yang telah disiapkan pemerintah.
“Teknologi saja tidak cukup. Butuh kesadaran bersama untuk menjadikan pengelolaan sampah sebagai budaya. Semua pihak harus terlibat, mulai dari rumah tangga hingga institusi,” pungkasnya. (Eby/Adv)

