Halonusantara.id, Samarinda — Upaya terstruktur dan berkelanjutan dalam penanganan malaria di Kalimantan Timur (Kaltim) kini mulai membuahkan hasil. Salah satu bukti paling konkret adalah penurunan status endemis di tiga kabupaten yang sebelumnya berada di zona merah, yakni Paser, Berau, dan Kutai Timur.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, menjelaskan bahwa berdasarkan peta endemisitas terbaru tahun 2024, ketiga kabupaten tersebut kini berstatus endemis rendah, setelah sebelumnya masuk kategori endemis tinggi pada tahun 2023. Sementara Penajam Paser Utara (PPU) tetap berada pada kategori endemis sedang.
“Ini bukan sekadar penurunan angka kasus, tapi juga pergeseran zona risiko di wilayah-wilayah yang selama ini jadi fokus utama kita,” kata Jaya, Selasa (15/7/2025).
Jaya menegaskan bahwa penurunan status tersebut mencerminkan efektivitas pendekatan wilayah yang diterapkan oleh Dinkes Kaltim. Program pencegahan dan penanggulangan difokuskan langsung ke komunitas paling rentan, terutama masyarakat yang tinggal atau bekerja di sekitar kawasan hutan dan daerah endemis.
Berbagai langkah intervensi telah dijalankan selama tiga tahun terakhir, mulai dari pembagian kelambu, pemberian obat antimalaria, pemeriksaan dini, hingga penyediaan paket perlindungan khusus bagi pekerja hutan, seperti losion anti-nyamuk dan obat pencegahan.
Berdasarkan laporan Sistem Informasi Surveilans Malaria (SISMAL) per 10 Juli 2024, jumlah kasus malaria mengalami penurunan drastis, dari 2.498 kasus pada 2023 menjadi 1.096 kasus pada 2024 turun sekitar 56 persen. Proyeksi 2025 menunjukkan tren positif berlanjut dengan estimasi hanya 536 kasus.
“Kalau kita lihat, dari sisi data dan peta wilayah, tren kita sangat bagus. Tiga daerah yang sebelumnya merah sudah turun ke status yang lebih aman. Itu capaian yang patut diapresiasi,” ujarnya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci dari keberhasilan ini. Edukasi dan pelibatan masyarakat lokal dilakukan secara intensif, tidak hanya melalui tenaga kesehatan, tapi juga melibatkan tokoh masyarakat hingga kader desa.
“Kalau kita hanya menurunkan angka kasus, itu belum cukup. Tapi kalau kita bisa mengubah status wilayah di peta endemisitas, itu artinya kita berhasil memutus mata rantai penularan,” tegasnya.
Dengan kondisi ini, optimisme pun semakin besar bahwa Kaltim bisa mencapai target eliminasi malaria pada 2027, sebagaimana yang telah dicanangkan secara nasional. Jaya pun mengajak seluruh pihak untuk tetap menjaga momentum, khususnya di kabupaten yang masih berada di zona sedang.
“Beban kita sekarang tinggal bagaimana menjaga daerah yang sudah hijau tetap aman, dan mendorong wilayah kuning seperti PPU agar bisa menyusul,” pungkasnya. (Na/Adv/DiskominfoKaltim)

