Halonusantara.id SAMARINDA– Kepala Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, Suwarso menyampaikan Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Samarinda tercatat 161 kejadian dari awal tahun hingga saat ini.
Luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 315,44 hekater dengan wilayah yang terbanyak terdampak kebakaran yakni Kecamatan Palaran dan Kelurahan batuas dengan 22 kejadian.
“Data yang berhasil direkap Pusdalops, dari Januari sampai 9 September ada 161 kejadian kebakaran lahan dengan luas mencapai 315,43 hektare. Di kelurahan Bantuas mencapai 22 kejadian,” sebutnya.
Disusul sejumlah wilayah yang cukup sering mengalami kebakaran yakni Kelurahan Simpang Pasir, Pulau Atas, Makroman, dan Lempake. Beberapa wilayah tersebut tercatat mengalami sekitar 12 kejadian.
Suwarso membeberkan tingginya kebakaran yang terjadi periode bulan Agustus hingga September 2026. Periode tersebut disebabkan puncak kemarau dan El Nino di Kaltim
Lanjut Suwarso, kondisi ini cukup ekstream dibanding tahun tahun sebelumnya. Bahkan, informasi yang didapatkan dari BMKG mengatakan bahwa fenomena El Nino lebih tinggi dari yang terjadi pada 2015 silam.
“Lonjakannya signifikan. Bahkan BMKG menyatakan El Nino saat ini sangat kuat, lebih tinggi dibanding puncak El Nino yang pernah terjadi pada 2015,” ucapnya.
Dirinya menjelaskan, karhutla yang terjadi di Samarinda tidak hanya dipengaruhi faktor cuaca. Namun, kondisi lahan yang kering, suhu udara yang tinggi, termasuk keberadaan lahan gambut, turut meningkatkan risiko kebakaran.
Selain itu, faktor manusia menjadi salah satu penyebab dominan. Kebakaran dapat bermula dari kelalaian, seperti membakar sampah, maupun aktivitas pembukaan lahan.
“Lebih banyak dominan human error dari sisi kelalaian. Misalnya hanya ingin membakar sampah, tetapi akhirnya meluas. Ada juga yang membuka lahan untuk berkebun, kemudian apinya meluas,” ungkapnya.
BPBD Samarinda terus melakukan mitigasi sejak April 2026 setelah mendapat informasi mengenai potensi puncak El Nino guna mengatasi bencana yang terjadi.

