HaloNusantara.id, SAMARINDA– Kondisi kemarau panjang dan Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang begitu masif terjadi di Kalimantan Timur membuat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) mengalami peningkatan.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, membeberkan pengingkatan kasus ISPA di dominasi atas beberapa daerah seperti Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Berau, Kota Balikpapan, dan Kota Samarinda.
Dirinya menilai peningkatan kasus bukan hanya disebabkan asap semata melainkan juga debu karena kemarau panjang.
“Bukan hanya asap, tapi mungkin debu karena kekeringan juga. Hujan masih sangat jarang, sehingga debu bisa memengaruhi kualitas udara,” ulasnya.
Jaya menuturkan kasus ISPA mengalami peningkatan secara mingguannya. Namun kasus yang terjadi masih berada di bawah 9.000 kasus.
Lanjut Jaya, kasus yang terjadi saat ini tidak berbeda jauh dengan kasus yang terjadi pada bulan Januari – Februari lalu sekitar 9.000 hingga 9.400 kasus. Sehingga kasus saat ini belum terlalu signifikan dibanding periode sebelumnya.
Jaya menuturkan bahwa Kelompok yang paling rentan mengalami ISPA yaitu anak-anak, lanjut usia (lansia), serta ibu hamil.
Disisi lain, Jaya juga meminta masyarakat untuk mewaspai potensi penularan penyakit akibat keterbatasan sumber air selama musim kekeringan.
Menurutnya, ketika sumber air terbatas masyarakat dan hewan seperti tikus berpotensi menggunakan air yang sama sehingga kasus ini berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit.
Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah leptospirosis, penyakit menular yang disebabkan paparan bakteri dari urine tikus. Jaya mengungkapkan gangguan kesehatan yang berkaitan dengan sanitasi atau kualitas air harus menjadi perhatian khusus.
Untuk mengantisipasi berbagai risiko tersebut, Dinkes Kaltim terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan selama musim kemarau serta kondisi karhutla.
Jaya mengajak masyarakat untuk rutin melakukan cuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan minum guna menghilangkan bakteri yang menempel. Sementara untuk mengatasi kulitas udara yang buruk, masyarakat dihimbau untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.
“Kalau berkaitan dengan udara, menggunakan masker. Kemudian kalau terjadi kabut asap tebal, sebaiknya menghindari aktivitas di luar dan lebih banyak berada di dalam rumah,” imbuhnya.
Apabila masyarakat mengalami keluhan kesehatan, kata Jaya, harus segera melalukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan sehingga penyakit dapat diketahui dengan cepat.
“Jangan ditunda untuk segera berobat ke puskesmas atau layanan kesehatan terdekat, sehingga bisa dideteksi apakah ini ISPA biasa, penyakit yang berkaitan dengan paru-paru, atau infeksi yang menyebabkan diare, demam, dan lainnya,” demikian Jaya.

