Halonusantara.id, Kutai Kartanegara – Ketua DPRD Kutai Kartanegara, Ahmad Yani, mendorong terwujudnya ruang yang setara bagi seluruh pemeluk agama untuk mengekspresikan keimanannya.
Hal ini disampaikannya dalam konteks wacana pembentukan Peraturan Daerah (Perda) yang mendukung gerakan keagamaan bagi umat non-Muslim di Kukar.
Menurut Ahmad Yani, Kukar sebagai daerah multikultural memerlukan kebijakan yang mampu merawat toleransi secara adil. Ia menyebut, jika umat Muslim telah difasilitasi lewat Perda Gerakan Etam Mengaji Al-Qur’an (GEMA), maka pemeluk agama lain juga berhak atas dukungan serupa.
“GEMA sudah terbukti membangun karakter religius umat Islam. Tapi kita juga ingin ada ruang yang setara untuk saudara-saudara kita non-Muslim,” ujarnya saat ditemui di gedung DPRD Kukar, pada Jumat (4/7/2025).
Yani sapaan akrabnya mengatakan bahwa DPRD tak sekadar bertugas membuat regulasi, tetapi juga memfasilitasi keseimbangan ekspresi keagamaan di tengah masyarakat. Ia berharap inisiatif dari tokoh-tokoh agama non-Muslim segera muncul agar wacana Gerakan Etam Membaca Kitab bisa direalisasikan.
“Kalau ada niat dan kesepakatan dari para tokoh agama non-Muslim, kami sangat terbuka untuk merumuskan bentuk gerakannya,” ucapnya.
Ia mengakui bahwa wacana tersebut sempat dibahas di internal DPRD, namun belum mendapat respons aktif dari lembaga keagamaan non-Muslim. Padahal menurutnya, perda ini bisa menjadi penguat moral dan spiritual yang inklusif bagi semua kalangan.
Yani pun menyarankan agar kegiatan membaca kitab suci di komunitas Kristen, Hindu, atau Buddha dikembangkan dalam semangat yang sama dengan GEMA, yakni membentuk karakter warga berdasarkan nilai kitab suci masing-masing.
“Yang kita harapkan adalah tumbuhnya generasi berakhlak, apapun latar agama mereka,” ujarnya lagi.
Ia juga menekankan bahwa aspek teknis, seperti pendanaan maupun bentuk kegiatan, bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing komunitas. Hal terpenting menurutnya adalah adanya kesepahaman untuk melangkah bersama.
Bagi Yani, kebijakan yang adil dalam kehidupan beragama tak bisa menunggu momentum. Ia mengajak seluruh pihak untuk memulai dialog dan menyusun gagasan yang konkret demi mewujudkan keseimbangan spiritual di Kukar.
“Kami di DPRD siap duduk bersama. Kalau masyarakat lintas iman ingin memperjuangkan nilai-nilai agamanya, kami akan jadi jembatannya,” pungkasnya. (Hf/Adv)

