Halonusantara.id, Samarinda – Program nasional pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tak hanya dinilai sebagai solusi pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM di Kalimantan Timur (Kaltim).
Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, menilai bahwa kehadiran SPPG di setiap kabupaten dan kota di Kaltim akan memberi dampak besar terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pasalnya, unit-unit SPPG akan membutuhkan pasokan rutin bahan pangan lokal seperti beras, sayur, telur, ayam, hingga ikan untuk menunjang kegiatan dapur mereka.
“Ini akan menjadi lokomotif baru ekonomi daerah. Petani, peternak, dan nelayan bisa menjadi pemasok utama kebutuhan harian SPPG. Triliunan rupiah bisa berputar di daerah kita,” ujarnya, Sabtu (19/7/25).
Setiap SPPG yang dibangun akan mendapat alokasi anggaran Rp10 miliar per tahun dan menyerap sekitar 50 relawan lokal.
Selain itu, tenaga kerja inti terdiri dari kepala satuan, ahli gizi, dan akuntan. Di seluruh Indonesia, program ini akan menyerap hingga 30.000 tenaga kerja.
Namun demikian, Rudy juga mengingatkan bahwa tantangan geografis Kaltim tidak bisa dipandang remeh. Dengan wilayah seluas 127.000 km² dan sebaran penduduk yang tidak merata, pembangunan SPPG di wilayah pedalaman dan pesisir harus mempertimbangkan aspek infrastruktur dan logistik.
“Di daerah seperti Sepatin, Tani Baru, atau Muara Pantuan, jumlah penduduk masih sedikit, sekolah pun terbatas. Itu butuh strategi berbeda dibanding di kota seperti Balikpapan,” jelasnya.
Karena itu, Rudy menekankan perlunya standarisasi dan penyesuaian model SPPG agar tetap efektif meski diterapkan di wilayah terpencil.
Ia juga mendorong agar seluruh bupati dan wali kota segera duduk bersama membahas kesiapan daerah dalam menyambut pembangunan SPPG.
Menurut rencana, akan dibangun setidaknya tiga SPPG di setiap kabupaten/kota. Secara nasional, program ini akan melahirkan 350 unit SPPG yang menjadi ujung tombak program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Saya yakin, selain menurunkan angka stunting, program ini bisa menekan pengangguran dan kemiskinan. Ini solusi gizi sekaligus solusi ekonomi,” pungkasnya. (Na/Adv/DiskominfoKaltim)

