Halonusantara.id, KUKAR – Meski menjalani masa hukuman, warga binaan di berbagai lembaga pemasyarakatan di Kutai Kartanegara tetap mendapat ruang untuk mengembangkan diri. Beragam program pembinaan dijalankan agar mereka memiliki bekal ketika kembali ke masyarakat.
Di Lapas Kelas IIA Tenggarong, pembinaan difokuskan pada aspek keagamaan dan seni. Pesantren Taubatan Nasuha menjadi wadah bagi warga binaan yang ingin memperdalam ilmu agama. Selain itu, mereka juga memiliki grup musik yang kerap tampil di acara internal.
Lapas Perempuan (LPP) Tenggarong memiliki pendekatan berbeda. Bersama Yayasan Gubang, para penghuni LPP dilatih seni tari. Kegiatan ini tak hanya mengasah keterampilan, tetapi juga memberi ruang berekspresi dan menumbuhkan rasa percaya diri.
Sementara itu, Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) lebih banyak menekankan pembinaan spiritual. Para anak bina mengikuti program membaca Al-Qur’an secara rutin, dengan harapan mereka bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik setelah keluar nanti.
Anggota Komisi IV DPRD Kukar, Akhmad Akbar Haka, menilai keberagaman program pembinaan ini penting untuk mendukung reintegrasi sosial warga binaan.
“Pembinaan tetap harus berjalan, karena tujuan pemasyarakatan adalah membina, bukan sekadar menghukum,” ujarnya, Minggu (17/8/2025).
Menurutnya, pembinaan lewat seni, agama, maupun pendidikan mampu memberikan dampak positif. Selain mengurangi stres selama menjalani hukuman, kegiatan tersebut juga menumbuhkan semangat baru bagi warga binaan.
Akbar menekankan bahwa setiap program pembinaan harus mendapat dukungan penuh. Bukan hanya dari pemerintah, tetapi juga dari masyarakat agar stigma negatif terhadap mantan narapidana bisa dikurangi.
“Kalau pembinaan berhasil, mereka akan kembali ke masyarakat dengan kemampuan baru dan lebih siap menjalani hidup. Itu yang seharusnya menjadi tujuan bersama,” jelasnya.
Kehadiran pesantren, seni tari, dan program spiritual di lapas-lapas Kukar menjadi bukti bahwa pemasyarakatan bukan hanya soal menjalani hukuman. Lebih dari itu, ada upaya nyata untuk membentuk karakter dan mengembalikan kepercayaan diri warga binaan.
Dengan dukungan berkelanjutan, diharapkan program-program ini bisa terus berkembang dan memberi manfaat jangka panjang.
“Kita ingin mereka yang keluar dari lapas bisa kembali diterima dengan baik, karena sudah melalui proses pembinaan yang menyeluruh,” pungkas Akbar. (Hf/Adv)

