Halonusantara.id, Samarinda — Permainan tradisional katapel yang sempat menjadi bagian dari masa kecil masyarakat Indonesia, kini kembali mendapat perhatian khusus di Kelurahan Rawa Makmur, Kecamatan Palaran. Dalam upaya melestarikan budaya lokal, masyarakat setempat rutin mengadakan latihan bersama katapel tradisional. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri Sultan Aji Muhammad Idris (UINSI) Samarinda turut hadir dan mendampingi kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan pelestarian warisan budaya.
Katapel bukan hanya sekadar alat permainan masa kecil. Ia menyimpan nilai-nilai penting seperti ketangkasan, ketelitian, ketenangan, hingga kebersamaan. Latihan bersama ini menjadi ruang yang edukatif sekaligus rekreatif, terutama bagi anak-anak dan remaja yang kini lebih akrab dengan gawai dibanding permainan tradisional.
Pelestarian Nilai Budaya Lewat Latihan Bersama
Latihan katapel yang digelar warga secara berkala di lingkungan Rawa Makmur menjadi upaya konkret dalam menjaga eksistensi permainan tradisional. Mahasiswa KKN UINSI Samarinda yang sedang menjalani program pengabdian masyarakat, berkesempatan ikut hadir dalam latihan tersebut.
Dalam pengamatan mahasiswa, peserta latihan terdiri dari anak-anak hingga orang dewasa, saling berbagi teknik, saling menyemangati, dan menjadikan kegiatan ini sebagai bagian dari interaksi sosial positif di tengah masyarakat.
Pernyataan Mahasiswa KKN
Salah satu perwakilan mahasiswa KKN, Aji Muhammad menyampaikan:
“Kami sangat mengapresiasi semangat warga Rawa Makmur dalam merawat tradisi katapel ini. Kehadiran kami di sini bukan hanya untuk belajar, tapi juga sebagai bentuk dukungan bahwa budaya lokal seperti ini penting untuk terus hidup. Di tengah arus digitalisasi, permainan tradisional semacam ini justru bisa menjadi sarana membentuk karakter dan mempererat hubungan sosial masyarakat.”
Harapan untuk Masa Depan
Melalui keikutsertaan mahasiswa KKN dalam kegiatan ini, diharapkan pelestarian budaya tak hanya menjadi tugas masyarakat lokal, tetapi juga menjadi perhatian akademisi dan generasi muda. Dukungan sederhana seperti mendokumentasikan, menulis, dan menyebarkan cerita tentang permainan tradisional bisa berdampak besar dalam menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal.
Mahasiswa juga mendorong agar kegiatan seperti ini mendapat perhatian dari pihak kelurahan dan instansi terkait untuk dijadikan agenda rutin atau program pembinaan olahraga tradisional di tingkat RT, RW, atau sekolah.
Budaya adalah Identitas
Keterlibatan mahasiswa KKN dalam latihan katapel di Rawa Makmur menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak harus dalam bentuk acara besar. Kehadiran, apresiasi, dan pengakuan terhadap praktik budaya lokal yang masih hidup adalah bentuk penghormatan terhadap identitas kita sebagai bangsa.
Dengan mendampingi dan mendokumentasikan kegiatan seperti ini, mahasiswa berharap masyarakat luas kembali menyadari bahwa menjaga budaya adalah tugas bersama lintas generasi. (IFA)

