Halonusantara.id, Samarinda — Tragedi memilukan terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie (RSUD AWS) Samarinda. Seorang pasien lanjut usia ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri di ruang perawatan, Minggu (6/7), memunculkan sorotan tajam terhadap sistem pengawasan pasien di fasilitas kesehatan milik Pemprov Kaltim tersebut.
Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim, Darlis Pattalongi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut. Ia menilai kejadian itu menunjukkan potensi kelalaian dalam sistem pemantauan pasien yang seharusnya berjalan ketat di rumah sakit rujukan utama di Kaltim itu.
“Peristiwa seperti ini tidak bisa dianggap biasa. Ini menyangkut nyawa manusia dan integritas layanan kesehatan publik. Jika seorang pasien bisa mengakhiri hidupnya sendiri tanpa terdeteksi, itu menunjukkan lemahnya kontrol di lapangan,” ujarnya.
Darlis menekankan bahwa tindakan gantung diri bukan kejadian spontan. Menurutnya, proses itu memerlukan waktu dan seharusnya bisa dicegah apabila sistem pengawasan bekerja sebagaimana mestinya.
Ia juga mempertanyakan efektivitas prosedur kontrol oleh petugas medis serta optimalisasi teknologi pemantauan seperti CCTV, terutama di area rawan dan bagi pasien yang tergolong rentan secara psikologis.
“Kalau pengawasan manual tidak memadai, rumah sakit seharusnya memaksimalkan pemanfaatan kamera pengintai di ruang rawat. Tidak semua ruang harus terbuka, tapi zona kritis harus bisa terpantau,” tegasnya.
Komisi IV DPRD Kaltim berencana memanggil manajemen RSUD AWS untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Fokusnya mencakup sistem pengawasan, kesiapan tenaga medis dalam mendeteksi gejala gangguan mental, hingga prosedur tanggap darurat.
“Apakah rumah sakit memiliki sistem skrining psikologis bagi pasien rawat inap? Bagaimana koordinasi dengan keluarga pasien? Ini akan jadi agenda utama dalam rapat kami nanti,” ucap Darlis.
DPRD Kaltim menegaskan, insiden ini harus menjadi titik balik untuk memperkuat pengawasan serta meningkatkan perhatian terhadap aspek keselamatan jiwa pasien, tak hanya secara fisik, tetapi juga mental. Mereka mendesak agar kejadian ini tidak berlalu tanpa pembenahan sistemik di seluruh rumah sakit daerah. (Eby/Adv)

