Halonusantara.id, Samarinda — Peringatan Hari Pajak Nasional menjadi momen refleksi atas kualitas layanan perpajakan di Kalimantan Timur. Anggota Komisi II DPRD Kaltim, Sigit Wibowo, menyoroti masih berbelitnya proses administrasi pajak, yang menurutnya bertolak belakang dengan semangat membangun kepatuhan warga.
Dalam keterangannya, Sigit menilai sistem yang tidak ramah pengguna bisa menjadi penghambat utama bagi masyarakat yang ingin melaksanakan kewajiban perpajakannya.
“Jangan sampai masyarakat sudah niat bayar pajak, malah dihadang prosedur berbelit. Itu kontraproduktif dengan tujuan negara meningkatkan penerimaan,” kata Sigit saat ditemui.
Salah satu isu yang disorotinya adalah proses balik nama kendaraan bermotor. Ia mencontohkan masih banyak pemilik baru yang kesulitan menyelesaikan proses administrasi karena terkendala persyaratan yang tidak realistis.
“Bayangkan, mobil sudah berpindah tangan dua-tiga kali. Tapi saat mau balik nama, disuruh cari KTP asli pemilik pertama. Padahal semua data kendaraan seharusnya sudah terekam,” ujarnya heran.
Menurut Sigit, kerumitan tersebut bisa menghambat partisipasi masyarakat dalam membayar pajak secara tertib. Ia mengkritik kurangnya optimalisasi sistem digital serta lemahnya integrasi data lintas lembaga pemerintah.
Ia pun mendorong agar Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) dan kepolisian segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pelayanan pajak, khususnya yang berkaitan dengan kendaraan bermotor.
“Masalahnya bukan sekadar data, tapi mindset birokrasi kita yang belum berpihak pada pelayanan. Pemerintah ingin masyarakat taat bayar pajak, tapi sistemnya sendiri yang membuat orang frustrasi,” tegasnya.
Lebih lanjut, DPRD Kaltim disebutnya akan terus mendesak reformasi birokrasi di sektor pelayanan publik, terutama yang berkaitan langsung dengan kontribusi warga terhadap penerimaan daerah.
“Ini bukan hanya soal pajak, tapi soal kepercayaan publik terhadap negara. Kalau niat baik masyarakat selalu terhalang sistem yang kaku, jangan heran kalau penerimaan pajak tak optimal,” pungkasnya. (Eby/Adv)

